Sabtu, 04 Februari 2017

KEBIASAAN OPTIMIS DALAM BELAJAR

KEBIASAAN OPTIMIS DALAM BELAJAR Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Hampir semua kenakalan remaja terjadi karena mereka merasa kurang diperhatikan dan disayangi oleh orang tua mereka. Apa yang menyebabkan kebanyakan siswa tidak menyukai belajar? Atau tidak menyukai mata pelajaran tertentu, bahkan semua mata pelajaran? Jika pertanyaan ini kita tanyakan kembali pada orang-orang tua, sewaktu mereka masih belajar dulu, apakah masih pantas? Dengan kata lain, kebanyakan orang-orang tua pun tidak menyukai belajar, bukan hanya semasa sekolah dulu, mungkin masih sampai sekarang.

Lantas, apa yang menjadi penyebabnya? Peter Kline mengemukakan sebuah pernyataan menarik: Belajar Akan Efektif Jika Dilakukan Dalam Suasana Menyenangkan. Ini berarti, kegiatan belajar-mengajar akan membosankan dan tidak menarik, kalau tidak tercipta suasana yang menyenangkan. Dari sini dapat kita telusuri lagi dengan sebuah pertanyaan: Kenapa suasana belajar tersebut tidak menyenangkan? Atau kenapa sebuah mata pelajaran bahkan semua itu tidak menarik dan tidak menyenangkan? Buckminster Fuller memberikan jawabannya. Kata beliau, “Setiap anak terlahir jenius, tetapi kita memupuskan kejeniusan mereka dalam enam bulan pertama.” Lho, kok bisa demikian? Bukankah s
... baca selengkapnya di KEBIASAAN OPTIMIS DALAM BELAJAR Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Kamis, 02 Februari 2017

Tong A Fie - Orang Terkaya Asal Medan

Tong A Fie - Orang Terkaya Asal Medan Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Bila di Jawa kita mengenal Oei tiong ham. maka di sumatra juga punya kisah tragis yang lebih menyentuh bak telenovela namun ini

adalah kisah nyata. Tahun 2010 ini, rencananya kisan tjong a fie akan menjadi buku seri biografi sejarah saya yang ke dua setelah oei hui lan. sebelum membaca kisahnya lebih lengkap, ada baiknya anda membaca sedikit kisah ini. Sebuah pelajaran penting memaknai arti sebuah kekayaan yang bernilai tentang berbagi namun takdir bisa mengubah segalanya.

Tahun 1981, Queeny Chang, Putri Tjong A Fie, menerbitkan buku riwayat hidupnya. Tentu saja ia banyak bercerita perihal ayahnya, seorang hartawan yang masih diingat masyarakat luas di Sumatera Utara dan Semenanjung Tanah Melayu sampai kini. Menurut H. Yunus Jahja, semasa kanak-kanak di Medan ustad kenamaan K.H. Yunan Helmy Nasution belajar mengaji di salah satu mesjid sumbangan Tjong A Fie yang juga mendirikan berbagai kuil, gereja dan sekolah.

Pada tahun baru Imlek 1902, ayah mengadakan resepsi tahun baru di rumah kami. Saat itu saya berumur 6 tahun. Ibu memakaikan saya sarung kebaya. Rambut saya yang botak di beberapa tempat akibat baru sembuh dari tifus, disanggul dan diberi beberapa tusuk sanggul berhiaskan intan. Berlainan dengan ibu, saya tidak cantik. Wajah saya pucat dan persegi. Mata saya sayu, bulu mata saya jarang dan alis mata saya tipis berantakan.

Ibu saya mengenakan kebaya dan songket. Rambut ibu yang hitam berkilat dihiasi sederet tusuk sanggul i
... baca selengkapnya di Tong A Fie - Orang Terkaya Asal Medan Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Kamis, 19 Januari 2017

FUTURE TRADING, LEVERAGE FACTOR? AH, APA LAGI?

FUTURE TRADING, LEVERAGE FACTOR? AH, APA LAGI? Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

02 April 2007 – 16:54 (Her Suharyanto)   Diposting oleh: Editor

(Rate: 9.00 / 1 votes) Seri Artikel News for Wealth

Seorang pembaca, Pak Randi Temat, menulis surat berisi pertanyaan untuk saya. Karena pertanyaan itu menyangkut hal yang mungkin berguna untuk pembaca lain, maka saya putuskan untuk memuat jawaban saya di media ini. Dengan satu paragraf pengantar, Pak Randi mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini:

1. Dalam Future Trading sering saya dapati tentang Leverage Factor atau daya ungkit. Terus terang saya masih agak bingung dengan hal ini. Tolong kiranya Bapak bisa menjelaskan saya tentang hal ini.

2. Kalo kita membeli saham/valas, kita mempunyai kemungkinan capital gain atau capital loss . Pertanyaan saya: Apakah Leverage factor itu yang menyebabkan kita mengalami capital loss hingga benar-bangkrut bangkrut.

3. Adakah Instrumen Investasi yang memungkinkan kita tidak mengalami capital loss hingga bangkrut? Jadi ya layaknya instrumen konvensional seperti investasi pada tanah misalnya?

4. Saya ingin memberi andil bagi perekonomian bangsa ini. Adakah instrumen trading yang bisa membuat saya melakukan itu? Kalau saya melakukan valas trading dollar/rupiah, apakah ini akan membantu menguatkan rupiah? Saya ingin melakukan trading yang melemahkan dollar sehingga rupiah mengua
... baca selengkapnya di FUTURE TRADING, LEVERAGE FACTOR? AH, APA LAGI? Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Minggu, 01 November 2015

Pionir yang Mulai Tersingkir

Baca Juga Catatan Ringan 'Wartawan Pensiun'

Pengumuman 'Pamit" Tabloid Olahraga Bola

Sungguh, pukulan terhadap pasar (baca: daya beli) pembaca media cetak, oleh media online, portal, media sosial dan sebagainya, menjadi demikian telak. Tuntutan arus informasi yang harus cepat dan lengkap, membuat media cetak terseok. Yang lebih dulu terkena imbas, justru media yang awalnya berhasil menggaet pembaca komunitas terbesar. Contoh kasusnya, pangsa penggemar olahraga, khususnya sepakbola. 
         Sabtu (1/11) kemarin saya terkejut, membaca pengumuman "pamit" nya Tabloid BOLA. Tabloid olahraga terbesar di Indonesia ini, sejak penerbitannya terkesan 'mewah' dan cukup berwibawa. Hampir semua wartawan olahraga kala itu tabloid Bola jadi rujukan. Namun kini, begitu arus media online memenuhi dunia maya yang demikian cepat, membuat tabloid yang kontennya hampir 70% adalah berita sepakbola, seakan terseret ke belakang oleh aktualisasi berita-berita sepakbola yang bisa diakses kapan-saja di mana saja melalui media online, dengan up date, permenit, bahkan ada yang perdetik.. Belum lagi media elektronik seperti televisi berlomba menayangkan langsung amupun tunda pertandingan-pertandingan sepakbola Eropa maupun dunia. 

            Harus diakui, hampir selama 29 tahun, tabloid BOLA selalu tampil dinamis dan lengkap. Kali pertama terbit Maret 1984, yang awalnya menjadi sisipan induknya, Harian KOMPAS, langsung berhasil memikat pembacanya, khususnya pecinta olahraga. Empat tahun menjadi sisipan, pada 1988 Bola lepas dari sebagai sisipan, dan terbit mandiri.
     Selama 13 tahun, BOLA terbit tiap Jumat. Pada Maret 1997, BOLA menambah frekuensi terbitnya, seminggu dua kali, Selasa dan Jumat. Meski resminya terbit Selasa dan Jumat, tapi pembaca  sudah bisa mendapati tabloid ini sejak Senin dan Kamis sore.
             Akhirnya BOLA menerbitkan edisi Sabtu. Tterbit tiga kali seminggu mulai Maret 2010, dengan mengubah secara resmi jadwal terbit menjadi Senin-Kamis-Sabtu (SKS). Kini pionir tabloid olahraga nasional ini tersugkur, oleh cepatnya arus informasi sepakbola, dari dunia lain. Kita cuma bisa prihatin.



Ditulis oleh: Sulaiman Sayid

Media Cetak, Berpacu dengan Waktu

Catatan Ringan 'Wartawan Pensiun'

 Perkembangan industri media informasi saat ini seperti sulit dibendung. Baik sekala lokal, nasional maupun internasional. Industri ini akan terus mengalami fase2 yang mau-tidak mau harus kita ikuti. Baik isi maupun perangkat industrinya itu sendiri, karena salah satu produk dari industri ini, menjadi kebutuhan kita, yakni informasi (berita). 

Ketika era media cetak, kita masih memiliki tenggat dalam mengikuti isi (berita) maupun teknologinya. Kini jenis media ini semakin terkikis oleh kemajuan teknologi yang demikian cepat, detil, kemudahan, dan berteknologi tinggi (hehehe masih menurut saya. red.). Kita yang gagap teknologi terasa kepontal-pontal ngikutinya. Media cetak sepertinya terjepit, oleh cepatnya arus informasi yang disampaikan oleh media elektronik (Radio,Televisi,Video/Film), Media Cyber (Websaid, Blog, Portal Berita, Media Sosial dan sejenisnya).

Misalnya saja, dalam penyajian berita, atas sebuah peristiwa. Bagi pembaca media cetak, tentu harus menunggu esok harinya, sementara televisi dan radio dalam beberapa menit atau jam, sudah bisa diterima para pemirsa dan pendengarnya. Apalagi bagi Cyber Media, yang bisa menyajikan dengan hitungan menit, Bahkan setiap menit pula, media jenis ini terus meng-update perkembangan dari peristiwa tersebut
Itu, baru dari segi penyajian. Belum lagi dari segi fisik media bersangkutan. Kalau kita membaca koran, kita perlu waktu dan tempat agak khusus.      Misalnya, saat sudah tidak ada lagi kegiatan atau kerja, dan membacanyapun perlu situasi dan kondisi tertentu. Kita akan mengganggu orang lain, saat membuka koran pada saat kita berada di kendaraan umum yang penuh sesak. Sementara bagi Cyber Media bisa membacanya dimana saja dan kapan saja. Kesemuanya lewat ujung jari kita, segala informasi yang ada di dunia ini, bisa kita akses.
Maka, akan berakhirkah era Media Cetak? Hanya waktulah yang akan menjawab.

            Melalui dua tulisan "Profesional, Eksklusif, dan Rasa Takut" 1 dan 2 berikut, sungguh bukan saya berniat untuk memperbandingkan dengan jurnalistik saat ini. Tapi, sueer saya hanya ingin bernostalgia. Betapa sulitnya menggali informasi untuk sebuah harian, agar memperoleh berita-berita bagus dan eksklusif, saat itu. Saya jadi iri, dengan era digital sekarang, untuk memperoleh berita apapun, tinggal klik merangkum tulisan dari sana-sini di media internet, ditambah sedikit konfirmasi dengan sumber berita. Jadilah berita dalam hitungan menit. Mari bernostalgia.
 

Diposkan oleh Sulaiman Sayid

Senin, 26 Oktober 2015

Profesional, Eksklusif dan Rasa Takut (1)

Catatan Ringan 'Wartawan Pensiun'

Stadion Madya Senayan ini, ibarat rumah keduanya Bob Hasan. Foto: Ist/PASI
          Tahun 1983, saya ditugaskan ke Jakarta, untuk kemudian menetap sebagai reporter di Biro Jakarta. Pengalaman yang minim, sebagai reporter pemula, bertugas di Jakarta, ibarat  menelusuri belantara yang ruwet dan kompleks. Pengenalan lapangan dengan kendaraan roda dua , menghasilkan 7 kali kena razia polisi di bulan pertama. Pengalaman lain, nyasar seharian. Dari kantor (Jln Raya Senen) mau ke Stadion Utama Senayan (sekarang Gelora Bung Karno), tahu-tahu nyampe Cililitan Jakarta Timur, hingga kehabisan bensin. Tapi dari kesasar itulah, justru menjadikan saya hafal jalan-jalan di Jakarta. Khususnya dari Jln Senen Raya, ke beberapa tempat sumber berita.
         Dua bulan di Jakarta, kembali saya memperoleh penugasan 'berat'. Dua bulan, bagi saya rasanya belum cukup beradaptasi, baik degan rekan di lapangan maupun nara sumber. Surabaya, lagi-lagi memberikan penugasan. Kali ini langsung Pak Bos (Dahlan Iskan). Pak Dahlan waktu itu memang masih ikut langsung menangani redkasi. "Ros, wawancarai Bob Hasan. Tanyakan berapa yang sudah beliau keluarkan untuk pembinaan atletik". Meski tidak ada kalimat penekanan "harus berhasil", otomatis penugasan seberat apapun harus berhasil. 
 Bob Hasan adalah Ketua Umum Persatuan Atletik Indonesia (PASI), hingga sekarang. Semua orang tahu figur ini adalah orang dekat Presiden Soeharto, saat itu. Temen-temen di Senayan pun, hanya tersenyum ketika saya mintai saran, bagaimana cara ketemu Bob Hasan. "Gue yang sudah belasan tahun di Jakarta, belum pernah wawancara eksklusif dengan beliau," demikian jawaban rata-rata rekan wartawan olahraga di Senayan. Waduuh, saya hampir putus asa, tapi terus dibayang-bayangi wajah kecewa Pak Bos yang menugasiku langsung, bila saya gagal memperoleh hasil wawancara Bob Hasan.
            Dalam kegalauan itu, ternyata ada yang memberitahu, bahwa satu-satunya kesempatan bisa wawancara khusus dengan Bob Hasan adalah di lapangan golf Rawamangun, Jakarta Timur. "Tiap hari Senin dan Kamis, beliau main golf dengan Pak Harto,"  Haaah...dengan Presiden? Bagimana caranya?.Tahu sendiri tahun 1980an, pengawalan presiden demikian ketat tanpa reserve.
             Bob Hasan dan Pak Harto biasanya tiba di Rawamangun pukul 14.30. Usai shalat dhuhur, saya sudah nyampai di selter tampat para caddie berkumpul. Karena saya mantan caddie, ngobrol dengan mereka soal golf, jadi nyambung. Pukul 14.15,  belasan Paspampres tidak berpakaian dinas turun dari jeep di halaman sporting house Rawamangun. Mereka menyebar ke berbagai sudut, selain ada pula yang mengikuti Pak Harto saat bermain golf. Sebagian lagi nanyai semua orang yang ada di situ, termasuk para caddie. Saya sempat diinterogasi kecil oleh salah seorang anggota Paspampres.
          Dengan sedikit berbohong, bahwa saya baru saja tiba dari Surabaya, untuk memenuhi janji wawancara dengan Bob Hasan. Dari interogasi itu, saya menangkap kesan,  bahwa ternyata, sikap dan tindakan Paspampresnya Pak Harto tak segalak yang dibayangkan banyak orang. Malah saat saya bilang, kalau saya punya tetangga di kampung juga anggota Paspampres, eh, ternyata dia mengaku teman baiknya."Begini saja", demikian dia mulai ngasih solusi. "Kalau Pak Bob tiba lebih dulu, silahkan Anda temui Pak Bob. Tapi jangan coba-coba mendekat, apabila Pak Bob datang bersama Bapak (Pak Harto), atau tiba setelah Bapak," .... lalu saya jawab "Siaaap..!"
               Lagi-lagi Tuhan memberiku jalan. 10 menit kemudian Bob Hasan datang sendirian. Saya dibiarkan mendekat ke mobil yang ditumpanginya, dan langsung saya bukakan pintu mobilnya, haha...  berlagak sok akrab. Sementara Bob Hasan seperti melihat sesuatu yang aneh. Mungkin dia berfikir, "Ini orang asing kok membukakan  pintu mobil saya, tanpa ada reaksi dari Paspampres".
               Sambil mengenalkan diri, saya tempel terus Bob Hasan sejak turun dari mobil hingga ke ruang ganti, bahkan hingga ke  urinoir, sayapun ngikuti buang air kecil juga di sebelahnya, sambil wawancara. Soalnya hanya diberi waktu 5 menit, sebelum Pak Harto tiba. Dengan ngaku, wartawan dari Surabaya,yang baru tiba tadi pagi, khusus datang ke Jakarta untuk wawancara soal semangat dan kecintaan Bob Hasan dalam membina cabang atletik. Rupanya, penjelasanku itu berhasil meluluhkan hati Bob Hasan untuk menghargai permintaan waktu wawancaraku. Setelah wawancara dengan beberapa pertanyaan penting yang sudah saya siapkan, akhirnya satu pertanyaan paling penting terjawab. Yaitu soal "Berapa biaya yang dikeluarkan dari kantong pribadi Bob Hasan untuk pembinaan cabang altetik Indonesia?". Boh Hasanpun mau menyebutkan angkanya. Atas keberhasilan itu, rasanya saya seperti mau menjerit. Paginya, saya bawa koranku ke teman-teman di Senayan. hehehe... pamer hasil wawancara denganBob Hasan. "Ah, yang bener nih?" demikian koementar mereka, masih belum percaya. Yaah.. biarlah.***


Ditulis oleh: Sulaiman Sayid   
       

Profesional, Eksklusif dan Rasa Takut (2)


Catatan Ringan 'Wartawan Pensiun'

Kawan-kawan Seksi Wartawan Olahraga PWI Jaya, angkatan di bawah dan di atas saya, foto di depan GBK Jakarta

            Sebagi reporter magang, keberhasilan dalam mengemban penugasan adalah poin tersendiri. Paling tidak selamat dari ancaman didrop, akibat beberapa kegagalan penugasan yang diberikan koordinator liputan (korlip) sebuah penerbitan surat kabar di Surabaya. Maka itu, sedikit nabrak etika jurnalistik gak apalah, toh saya pikir saat itu sebagai reporter pemula, gak ada yang tahu kecuali Tuhan, bagaimana proses untuk memperoleh berita eksklusif. Belum lagi. membayangkan wajah korlip, bahkan bos yang menginginkan juga keberhasilan berita yang saya kerjar. Pasti mereka akan marah besar dan kecewa berat, karena reporternya gagal memperoleh berita bagus, yang katanya berita kelas satu, dan sudah diplot di halaman 1, bahkan head line (HL). Waduh...., berat rasanya kaki melangkan ke tempat kejadian perkara (TKP), karena takut gagal.
          Tahun 1982, di sebuah sekolah menengah atas di Bojonegoro, akan berlangsung serah terima jabatan (sertijab) kepala dinas pendidikan. Beritanya sudah menyebar di beberapa media kala itu. Namun, bagaimana dan kapan proses sertijab tersebut? Hanya koran saya yang tahu.
           Berangkat usai subuh dari Surabaya menuju Bojonegoro ke TKP. Saat itu jalan raya belum seramai sekarang. Jam delapan pagi sudah nyampai tempat yang dituju. Tiga puluh menit kemudian acara sertijab dimulai, di suatu ruang rapat guru di sekolah tersebut. Acaranya sederhana dan tertutup untuk umum. Saya tidak diperbolehkan masuk, meski saya sudah memperkenalkan diri status saya. Sayapun mulai panik, khawatir tidak berhasil memperoleh berita pesanan bos itu. Di era tersebut, berapapun besarnya penyelewengan, terasa aib yang luar biasa.
           Saya putar otak, bagaimana saya bisa memperoleh informasi tentang sertijab yang tidak kering. Artinya, saya harus bisa menggambarkan suasana serah terima tersebut, siapa saja yang ada di ruang itu, raut wajah 'si tersangka' dan sebagainya, sementara saya berada di luar ruangan tempat acara. Ternyata, Tuhan masih memberikan petunjuk, dan benar kata temen-temen saya, bahwa memperoleh berita eksklusif atau foto bagus, sedikit banyak ada unsur 'keberuntungan'.
          Kala itu belum banyak sekolah yang berdinding batu bata. Kebanyakan memakai sesek, atau dinding bambu yang dilapisi kapur tebal. Kendala lain muncul. Acara sertijab itu tidak memakai pengeras suara, maka terpaksa...., sekali lagi terpaksa. Saya lubangi tuh dinding dengan bolpoin, cukup untuk mengintip dan sedikit mendengar suara acara tersebut. Dari lubang itu, saya bisa melaporkan warna dan suasana acara tersebut. Berapa orang yang hadir, siapa saja, dan fokus kepada figur yang diganti dan yang mengganti. Pokoknya suasana dan apa yang terjadi dalam sertijab itu ketangkap semua lewat lubang sebesar bolpoin itu. Dan bagaimana bisa memperoleh nama-nama yang menghadiri acara sertijab, sekaligus jabatannya? Semua saya peroleh dari pesuruh sekolah tersebut, yang sepanjang acara, keluar-masuk ruangan, sambil membawa makanan dan minuman untuk yang hadir.
          Walhasil, liputan saya tutup dengan wawancara pejabat pengganti yang baru, karena pejabat yang diganti langsung ngabur dengan mobil dinasnya. Pulang kekantor dengan membawa berita sesuai pesanan bos, rasanya nikmat sekali, meski bus yang saya tumpangi penuh, dan saya berdiri selama dua jam, sebelum memperoleh tampat duduk.(*)


Ditulis oleh: Sulaiman Sayid 
.