Sabtu, 11 Februari 2017

Apakah Memaafkan Sama Dengan Melupakan?

Apakah Memaafkan Sama Dengan Melupakan? Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Di milis Money Magnet baru-baru ini ramai dibahas mengenai memaafkan dan melupakan. Ada yang mengalami suatu pengalaman yang menyakitkan dan merasa sulit untuk memaafkan. Ada yang merasa sudah memaafkan namun kok nggak bisa melupakan. Apakah memaafkan sama dengan melupakan?

Saya menjelaskan mengenai efek dan khasiat memaafkan di artikel Forgiveness is The True Healer. Ini adalah artikel yang saya posting di web saya beberapa waktu lalu.

Bagaimana sih kok kita ini sampai bisa punya masalah, khususnya yang berhubungan dengan emosi negatif?

Sebenarnya semua emosi itu positif. Namun untuk memudahkan penjelasan maka saya “mengkategorikan” emosi seperti marah, kecewa, dendam, benci, terluka, sakit hati, perasaan bersalah, takut, cemas, khawatir, dan kawan-kawannya sebagai emosi negatif. Emosi negatif adalah emosi yang bila kita rasakan atau alami akan sangat mengganggu kita.

Pertanyaannya sekarang adalah, “Dari manakah sebenarnya emosi ini?”

Emosi muncul sebagai hasil dari suatu pemaknaan. Setiap kejadian adalah n
... baca selengkapnya di Apakah Memaafkan Sama Dengan Melupakan? Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Sabtu, 04 Februari 2017

KEBIASAAN OPTIMIS DALAM BELAJAR

KEBIASAAN OPTIMIS DALAM BELAJAR Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Hampir semua kenakalan remaja terjadi karena mereka merasa kurang diperhatikan dan disayangi oleh orang tua mereka. Apa yang menyebabkan kebanyakan siswa tidak menyukai belajar? Atau tidak menyukai mata pelajaran tertentu, bahkan semua mata pelajaran? Jika pertanyaan ini kita tanyakan kembali pada orang-orang tua, sewaktu mereka masih belajar dulu, apakah masih pantas? Dengan kata lain, kebanyakan orang-orang tua pun tidak menyukai belajar, bukan hanya semasa sekolah dulu, mungkin masih sampai sekarang.

Lantas, apa yang menjadi penyebabnya? Peter Kline mengemukakan sebuah pernyataan menarik: Belajar Akan Efektif Jika Dilakukan Dalam Suasana Menyenangkan. Ini berarti, kegiatan belajar-mengajar akan membosankan dan tidak menarik, kalau tidak tercipta suasana yang menyenangkan. Dari sini dapat kita telusuri lagi dengan sebuah pertanyaan: Kenapa suasana belajar tersebut tidak menyenangkan? Atau kenapa sebuah mata pelajaran bahkan semua itu tidak menarik dan tidak menyenangkan? Buckminster Fuller memberikan jawabannya. Kata beliau, “Setiap anak terlahir jenius, tetapi kita memupuskan kejeniusan mereka dalam enam bulan pertama.” Lho, kok bisa demikian? Bukankah s
... baca selengkapnya di KEBIASAAN OPTIMIS DALAM BELAJAR Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Kamis, 02 Februari 2017

Tong A Fie - Orang Terkaya Asal Medan

Tong A Fie - Orang Terkaya Asal Medan Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Bila di Jawa kita mengenal Oei tiong ham. maka di sumatra juga punya kisah tragis yang lebih menyentuh bak telenovela namun ini

adalah kisah nyata. Tahun 2010 ini, rencananya kisan tjong a fie akan menjadi buku seri biografi sejarah saya yang ke dua setelah oei hui lan. sebelum membaca kisahnya lebih lengkap, ada baiknya anda membaca sedikit kisah ini. Sebuah pelajaran penting memaknai arti sebuah kekayaan yang bernilai tentang berbagi namun takdir bisa mengubah segalanya.

Tahun 1981, Queeny Chang, Putri Tjong A Fie, menerbitkan buku riwayat hidupnya. Tentu saja ia banyak bercerita perihal ayahnya, seorang hartawan yang masih diingat masyarakat luas di Sumatera Utara dan Semenanjung Tanah Melayu sampai kini. Menurut H. Yunus Jahja, semasa kanak-kanak di Medan ustad kenamaan K.H. Yunan Helmy Nasution belajar mengaji di salah satu mesjid sumbangan Tjong A Fie yang juga mendirikan berbagai kuil, gereja dan sekolah.

Pada tahun baru Imlek 1902, ayah mengadakan resepsi tahun baru di rumah kami. Saat itu saya berumur 6 tahun. Ibu memakaikan saya sarung kebaya. Rambut saya yang botak di beberapa tempat akibat baru sembuh dari tifus, disanggul dan diberi beberapa tusuk sanggul berhiaskan intan. Berlainan dengan ibu, saya tidak cantik. Wajah saya pucat dan persegi. Mata saya sayu, bulu mata saya jarang dan alis mata saya tipis berantakan.

Ibu saya mengenakan kebaya dan songket. Rambut ibu yang hitam berkilat dihiasi sederet tusuk sanggul i
... baca selengkapnya di Tong A Fie - Orang Terkaya Asal Medan Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Kamis, 19 Januari 2017

FUTURE TRADING, LEVERAGE FACTOR? AH, APA LAGI?

FUTURE TRADING, LEVERAGE FACTOR? AH, APA LAGI? Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

02 April 2007 – 16:54 (Her Suharyanto)   Diposting oleh: Editor

(Rate: 9.00 / 1 votes) Seri Artikel News for Wealth

Seorang pembaca, Pak Randi Temat, menulis surat berisi pertanyaan untuk saya. Karena pertanyaan itu menyangkut hal yang mungkin berguna untuk pembaca lain, maka saya putuskan untuk memuat jawaban saya di media ini. Dengan satu paragraf pengantar, Pak Randi mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini:

1. Dalam Future Trading sering saya dapati tentang Leverage Factor atau daya ungkit. Terus terang saya masih agak bingung dengan hal ini. Tolong kiranya Bapak bisa menjelaskan saya tentang hal ini.

2. Kalo kita membeli saham/valas, kita mempunyai kemungkinan capital gain atau capital loss . Pertanyaan saya: Apakah Leverage factor itu yang menyebabkan kita mengalami capital loss hingga benar-bangkrut bangkrut.

3. Adakah Instrumen Investasi yang memungkinkan kita tidak mengalami capital loss hingga bangkrut? Jadi ya layaknya instrumen konvensional seperti investasi pada tanah misalnya?

4. Saya ingin memberi andil bagi perekonomian bangsa ini. Adakah instrumen trading yang bisa membuat saya melakukan itu? Kalau saya melakukan valas trading dollar/rupiah, apakah ini akan membantu menguatkan rupiah? Saya ingin melakukan trading yang melemahkan dollar sehingga rupiah mengua
... baca selengkapnya di FUTURE TRADING, LEVERAGE FACTOR? AH, APA LAGI? Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Minggu, 01 November 2015

Pionir yang Mulai Tersingkir

Baca Juga Catatan Ringan 'Wartawan Pensiun'

Pengumuman 'Pamit" Tabloid Olahraga Bola

Sungguh, pukulan terhadap pasar (baca: daya beli) pembaca media cetak, oleh media online, portal, media sosial dan sebagainya, menjadi demikian telak. Tuntutan arus informasi yang harus cepat dan lengkap, membuat media cetak terseok. Yang lebih dulu terkena imbas, justru media yang awalnya berhasil menggaet pembaca komunitas terbesar. Contoh kasusnya, pangsa penggemar olahraga, khususnya sepakbola. 
         Sabtu (1/11) kemarin saya terkejut, membaca pengumuman "pamit" nya Tabloid BOLA. Tabloid olahraga terbesar di Indonesia ini, sejak penerbitannya terkesan 'mewah' dan cukup berwibawa. Hampir semua wartawan olahraga kala itu tabloid Bola jadi rujukan. Namun kini, begitu arus media online memenuhi dunia maya yang demikian cepat, membuat tabloid yang kontennya hampir 70% adalah berita sepakbola, seakan terseret ke belakang oleh aktualisasi berita-berita sepakbola yang bisa diakses kapan-saja di mana saja melalui media online, dengan up date, permenit, bahkan ada yang perdetik.. Belum lagi media elektronik seperti televisi berlomba menayangkan langsung amupun tunda pertandingan-pertandingan sepakbola Eropa maupun dunia. 

            Harus diakui, hampir selama 29 tahun, tabloid BOLA selalu tampil dinamis dan lengkap. Kali pertama terbit Maret 1984, yang awalnya menjadi sisipan induknya, Harian KOMPAS, langsung berhasil memikat pembacanya, khususnya pecinta olahraga. Empat tahun menjadi sisipan, pada 1988 Bola lepas dari sebagai sisipan, dan terbit mandiri.
     Selama 13 tahun, BOLA terbit tiap Jumat. Pada Maret 1997, BOLA menambah frekuensi terbitnya, seminggu dua kali, Selasa dan Jumat. Meski resminya terbit Selasa dan Jumat, tapi pembaca  sudah bisa mendapati tabloid ini sejak Senin dan Kamis sore.
             Akhirnya BOLA menerbitkan edisi Sabtu. Tterbit tiga kali seminggu mulai Maret 2010, dengan mengubah secara resmi jadwal terbit menjadi Senin-Kamis-Sabtu (SKS). Kini pionir tabloid olahraga nasional ini tersugkur, oleh cepatnya arus informasi sepakbola, dari dunia lain. Kita cuma bisa prihatin.



Ditulis oleh: Sulaiman Sayid

Media Cetak, Berpacu dengan Waktu

Catatan Ringan 'Wartawan Pensiun'

 Perkembangan industri media informasi saat ini seperti sulit dibendung. Baik sekala lokal, nasional maupun internasional. Industri ini akan terus mengalami fase2 yang mau-tidak mau harus kita ikuti. Baik isi maupun perangkat industrinya itu sendiri, karena salah satu produk dari industri ini, menjadi kebutuhan kita, yakni informasi (berita). 

Ketika era media cetak, kita masih memiliki tenggat dalam mengikuti isi (berita) maupun teknologinya. Kini jenis media ini semakin terkikis oleh kemajuan teknologi yang demikian cepat, detil, kemudahan, dan berteknologi tinggi (hehehe masih menurut saya. red.). Kita yang gagap teknologi terasa kepontal-pontal ngikutinya. Media cetak sepertinya terjepit, oleh cepatnya arus informasi yang disampaikan oleh media elektronik (Radio,Televisi,Video/Film), Media Cyber (Websaid, Blog, Portal Berita, Media Sosial dan sejenisnya).

Misalnya saja, dalam penyajian berita, atas sebuah peristiwa. Bagi pembaca media cetak, tentu harus menunggu esok harinya, sementara televisi dan radio dalam beberapa menit atau jam, sudah bisa diterima para pemirsa dan pendengarnya. Apalagi bagi Cyber Media, yang bisa menyajikan dengan hitungan menit, Bahkan setiap menit pula, media jenis ini terus meng-update perkembangan dari peristiwa tersebut
Itu, baru dari segi penyajian. Belum lagi dari segi fisik media bersangkutan. Kalau kita membaca koran, kita perlu waktu dan tempat agak khusus.      Misalnya, saat sudah tidak ada lagi kegiatan atau kerja, dan membacanyapun perlu situasi dan kondisi tertentu. Kita akan mengganggu orang lain, saat membuka koran pada saat kita berada di kendaraan umum yang penuh sesak. Sementara bagi Cyber Media bisa membacanya dimana saja dan kapan saja. Kesemuanya lewat ujung jari kita, segala informasi yang ada di dunia ini, bisa kita akses.
Maka, akan berakhirkah era Media Cetak? Hanya waktulah yang akan menjawab.

            Melalui dua tulisan "Profesional, Eksklusif, dan Rasa Takut" 1 dan 2 berikut, sungguh bukan saya berniat untuk memperbandingkan dengan jurnalistik saat ini. Tapi, sueer saya hanya ingin bernostalgia. Betapa sulitnya menggali informasi untuk sebuah harian, agar memperoleh berita-berita bagus dan eksklusif, saat itu. Saya jadi iri, dengan era digital sekarang, untuk memperoleh berita apapun, tinggal klik merangkum tulisan dari sana-sini di media internet, ditambah sedikit konfirmasi dengan sumber berita. Jadilah berita dalam hitungan menit. Mari bernostalgia.
 

Diposkan oleh Sulaiman Sayid